pasang iklan

Emanuel Gobai Sebut Assa Asso Korban Kriminalisasi

PAPUA, JAGAPAPUA.COM - Membelenggu korban rasisme dibalik jeruji dengan pasal makar tidaklah elok bagi perjalanan penegakkan hukum di Republik Indonesia. Apalagi saat peradilan mengesampingkan pemantik persoalan atau dalang pemicu dari rusuh.

Rusuh yang meluap dan berkembang di beberapa tanah Papua pada 2019 tahun kemarin adalah bentuk luapan keluh kesah rakyat Papua atas ujaran rasial yang dilakukan oleh segerombol vigilante dan anggota organisasi kemasyarakat terhadap para mahasiswa Papua di Surabaya.

Bahkan ada dugaan Negara dinilai lambat dalam merespon. Selain lambat menangkap, Negara juga disinyalir bertindak tak adil dalam menarik kesimpulan benang merah persoalan. Hal inilah yang kemudian memicu luapan amarah rakyat Papua.

Selepas kejadian itu, pasal makar selalu dikaitkan diruang persidangan. Salah satunya menimpa Assa Asso, anak muda Papua yang gemar memotret dan menobatkan diri sebagai sineas pada bebereapa komunitas lokal Papua. 

Demikian ungkap Advokat Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua, Emanuel Gobai yang bertindak selaku penasehat hukum Asso seperti dilansir dari Jubi.

Gobai menuturkan, Asso adalah anak muda Papua yang banyak menghabiskan waktunya dalam Komunitas Papuan Voice’s. dia sosok muda yang gemar mengabadikan momen melalui mata kamera, lantas karena unggahannya di Facebook dia digulung pasal makar.

Tentu ini bersebrangan menurut Gobay, mencuatnya unggahan Asso diduga kuat lantaran gelagat yang dipertunjukan oleh sekelompok oknum dengan cara merendahkan martabat kemanusian orang Papua. Itupula yang memantik luapan emosi Asso.

Lagian, jikalau hendak merujuk dalam ugahan Asso di Facebook berdasarkan keterangannya, didalam muatan unggahan status Asso disinyalir tidak merujuk pada sebuah ajakan atau hasutan untuk menggelar aksi demonstrasi. Assa Asso hanyalah korban dari tindakan kriminalisasi.

Sebelumya perlu diketahui, Assa Asso adalah terdakwa perkara dugaan pasal makar yang dibekuk pihak penegak hukum pasca ujuk rasa anti rasisme pada 29 Agustus 2019, demontrasi itu kemudian berubah menjadi luapan amukan massa di Kota Jayapura. (RS)

Baca juga: https://jagapapua.com/article/detail/3080/samuel-tabuni-kami-akan-lawan-siapapun-yang-bersikap-rasis

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery