pasang iklan

Ritual Warekma di Papua Rentan Jadi Medium Penyebaran Covid-19

JAYAWIJAYA, JAGAPAPUA.COM - Masyarakat Lembah Baliem Kabupaten Jayawijaya merupakan entitas sub suku di wilayah Pegunungan Tengah Papua yang mendiami wilayah Lembah Baliem yang terbentang dari barat hingga menuju Timur (Watikam-Heraewa).

Bentangan ini searah dengan aliran sungai Baliem yang membentang dari arah Barat hingga ke Timur dan bermuara di sebelah Selatan Papua. Masyarakat Lembah Baliem seperti masyarakat lainnya di dunia memiliki suatu sistem kebudayaan yang amat kental yang menjadi fondasi kehidupannya secara turun temurun.

Sistem kebudayaan yang terekspresi berupa nilai-nilai budaya maupun artefak kebudayaan masih eksis bertahan hingga dewasa ini. Tulisan ini akan mendeskripsikan kekhawatiran akan peranan kebudayaan tersebut mempengaruhi meluasnya transmisi wabah Covid-19 di antara masyarakat yang sangat kuat berpegang pada sistem nilai budayanya itu.

Sebagaimana diketahui publik, bahwa suatu sistem kebudayaan memiliki peran yang tidak saja selalu positif, tergantung dari sudut pandang pengetahuan dan juga kerap dibutuhkan sebuah penyesuaian dalam menghadapi tantangan besar yang datang pada zaman globalisasi ini. Dengan demikian kebudayaan masyarakat Lembah Baliem setelah mengalami dan melewati banyak arus tantangan dan cobaan, kini bertahan dalam zaman yang cukup maju dan ia masih dapat dikatakan eksis, karenanya tentu saja tantangan pun tidak henti-hentinya terus menerpa.

Dengan situasi yang demikian, maka kehadiran Covid-19 dalam suasana masih kentalnya kebudayaan masyarakat ini, tentu akan memiliki dampak tersendiri yang bisa membahayakan kesehatan masyarakat, jika masyarakatnya tidak memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup dan memadai tentang epidemiologi maupun pola-pola dari proses transmisi Covid-19 ini.

Kebudayaan Masyarakat Lembah Baliem

Kebudayaan masyarakat Lembah Balim Wamena sebagaimana yang akan difokuskan pada topik ini adalah mengenai seperangkat sistem nilai budaya yang masih kuat dipraktekan oleh segenap lapisan masyarakat Lembah Balim sejak dahulu hingga saat ini. Utamanya akan difokuskan menyangkut tradisi dan tata penyelengaraan acara kedukaan (Warekma) yang di dalamnya terdapat proses-proses dan nilai yang sangat kompleks.

Barangkali penulis yakin dan bahkan seyakin-yakinnya meyakini bahwa ritual kedukaan orang Lembah Baliem adalah salah satu upacara yang sangat kompleks dan paling lama daripada suku-suku lain di Papua, Indonesia juga bahkan di dunia.

Inilah yang kemudian mendasari pemikiran penulis untuk menuliskan artikel ini agar setiap pihak entah masyarakat Lembah Baliem sendiri,  otoritas pemerintah, gereja hingga adat di semua suku dan klen dapat memainkan peranannya secara maksimal dalam mengadvokasi dan mengedukasi masyarakat guna membatasi tradisi/upacara kedukaan selama masih berlangsungnya wabah pandemik Covid-19 ini utamanya jika ada orang Wamena yang meninggal karena Covid-19.

Secara sederhana prosesi ‘warekma’ atau istilah kedukaan untuk masyarakat Lembah Baliem terdiri dari beberapa bagian yang diakhiri oleh suatu acara doa untuk arwah yang dikenal sebagai penutupan duka atau sering diistilahkan dengan acara “3 malam” dan beberapa waktu setelahnya kira-kira dapat berselang antara 1 bulan sampai 1 tahun biasanya diselenggarakan acara penghapusan tanah (wene).

Sebagaimana kompeksitas acara kedukaan yang telah disinggung, kompleksnya tradisi ini nampak dari: persiapan acara kedukaan (pra acara), selama acara kedukaan (saat acara) hingga penutupan (pasca acara).

Pada bagian persiapan kedukaan, biasanya akan ditandai sendirinya dengan: bila ada informasi kedukaan semua sanak-saudara bahkan tetangga yang berada di dalam radius satu desa-kecamatan akan datang mengambil bagian untuk membantu proses-proses persiapan (apalagi bila yang meninggal adalah sosok yang dikenal baik).  Anak-anak muda hingga tua yang masih kuat dan bersemangat muda, akan memainkan peranan untuk memulai persiapan mencari kayu bakar secara bersama-sama dan gotong royong untuk  keperluan: 1) ritual kremasi jenazah, 2) acara bakar batu babi, 3) untuk acara bakar batu lanjutan selama beberapa hari berikutnya; selanjutnya menyiapkan tempat kedukaan, menata dan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk acara kedukaan.

Pada saat acara kedukaan, masyarakat yang berada dalam suatu wilayah kampung bahkan distrik, terutama yang memiliki hutang budi/jasa dengan keluarga besar yang berduka akan datang membawa sumbangan berupa babi, ubi, noken, kapak batu (sekarang sumbangan yang masuk biasanya dominan beras, mie instan, kopi-gula, rokok, pinang dst) ke acara puncak kedukaan.

Proses ini biasanya dapat menghadirkan ratusan bahkan ribuan pelayat yang datang tanpa sebuah pemberitahuan/undangan resmi. Mereka biasanya datang bukan karena maksud tertentu, tapi datang untuk memberi penghormatan atas jasa dan budi baik yang pernah dilakukan oleh si almarhum/Almarhumah selama masa hidupnya. Di samping itu, adapula yang datang karena ingin mendapatkan hak-haknya khususnya sebagai saudara bertalian darah/adat dengan sang almarhum/Almarhumah bersama seluruh keturunan dan moyangnya.

Pada puncak acara kedukaan ini akan dilakukan upacara kremasi mayat yang didahului dengan suatu acara makan babi bersama dalam Silimo. Acara ini adalah klimaks dari acara persiapan yang biasanya dilakukan sampai 2 atau 3 hari. Tergantung dari kesepakatan keluarga yang berduka. Pada puncak acara makan babi ini seluruhnya memuat beberapa makna: acara makan bersama, balas budi/jasa selama sang almarhum hidup dan berkarya, memberikan kepada pihak om babi hidup/masak, dan berdoa kepada Tuhan dan saling maaf dan melepaskan kepergiaan almarhum dengan beragam ratapan yang mengharukan.

Setelah itu biasa pada hari berikutnya sesudah acara puncak tadi, masih ada acara bakar batu lanjutan untuk masak babi (adat/non adat) maupun ubi-ubian dan sayuran. Biasanya berlangsung sekitar 2 hari. Tergantung bahan masakan dan persiapan yang ada.

Pada tahap akhir biasanya diakhir dengan suatu acara bakar batu ataupun masak di belanga untuk menutup seluruh rangkaian acara kedukaan. Biasanya ditandai dengan suatu ibadah yang akan dipimpin oleh pendeta atau wenewolok. Semua proses ini akan memakan waktu maksimal 1 minggu. Masyarakat yang ikut hadir dalam seluruh proses kedukaan ini jumlahnya biasanya lebih dari ratusan orang tergantung dari latar belakang sosio-kultural yang meninggal.

Ancaman Transmisi Covid-19

Sebagaimana yang sudah diketahui oleh publik bahwa proses penularan Covid-19 dapat menular melalui udara, kontak langsung dengan penderita maupun tidak langsung melalui benda-benda yang sudah terkontaminasi Covid-19. Dari data terakhir tim penanganan Covid19 wilayah Lapago menunjukkan di Kabupaten Jayawijaya telah terdapat 8 pasien yang dinyatakan positif Covid-19.

Data tersebut menandakan bahwa telah ada resiko besar masyarakat tertular infeksi virus Corona tersebut. Terlebih dengan memandang sistem nilai budaya yang demikian kompleks seperti yang sudah diuraikan di atas, tentu menunjukkan kerentanan dan peluang transmisi wabah Covid-19 di populasi masyarakat Lembah Baliem ini sangat tinggi.

Mengapa sangat tinggi? Argumentasi yang paling mungkin adalah masyarakat tentu tidak akan mau mendengar begitu saja himbauan pemerintah untuk mematuhi phsycal distancing atau menerapkan PSBB. Pihak keluarga dari orang meninggal paling mungkin adalah kelompok yang akan jamak melakukan penuntutan ataupun bermasalah dengan pihak keluarga berduka ataupun kepada pemerintah atau otoritas adat yang melarang pelaksanaan acara kedukaan sesuai budaya; yang mengikuti prosedur pemakaman sesuai SOP Kemenkes dan WHO.

Itu diperparah lagi dengan adanya informasi bahwa masyarakat Lembah Baliem meyakini bahkan memercayai bahwa wabah Covid-19 ini adalah wabah khusus yang hanya menyerang warga Non Papua. Tidak untuk orang Papua. “Karena orang non Papua itu jahat”. “Datang kuasai kita pu tanah!”, “Datang bunuh Kita orang Papua sejak dulu sampai sekarang, jadi Tuhan kutuk mereka”.

Ini merupakan ungkapan-ungkapan masyarakat yang nyata terdengar akhir-akhir ini.  Walaupun tidak dapat dibenarkan secara ilmu pengetahuan.

Penutup

Dari ulasan ini, penulis memiliki catatan untuk beberapa pihak di Lembah Baliem dalam kerangka mencegah penularan wabah Covid-19 berikut:

Kepada masyarakat adat di Lembah Baliem agar sebisa mungkin mengikuti anjuran menjaga jarak dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dikeluarkan oleh petugas kesehatan dan pemerintah Daerah Kabupeten Jayawijaya.

Apabila ada sanak keluarga yang meninggal karena diduga akibat Covid-19, maka prosesi kedukaan sebagaimana yang biasanya dilaksanakan sesuai nilai kebudayaan untuk sementara ini dapat ditiadakan demi menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak akibat terinfeksi wabah Virus Corona yang mematikan ini.

Kepada Pemerintah Daerah, khususnya instansi teknis terkait agar melakukan sosialisasi dan pengawasan yang ketat dan merata kepada seluruh lapisan masyarakat. Terutama melakukan pendekatan yang konstruktif kepada otoritas adat untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan acara kedukaan sebagaimana biasanya. Selanjutnya melakukan sosialisasi bagaimana menjaga pola hidup bersih dan sehat serta menyarankan masyarakat untuk tetap bekerja dengan hati-hati tanpa memancing atau mengundang keramaian. Dalam konteks ini masyarakat dapat diedukasi untuk kembali menggarap lahan di kebun masing-masing.

Kepada Om-Om yang dalam tulisan ini menjadi pihak yang paling mungkin menjadi masalah, agar tidak melakukan penuntutan jika ada acara kedukaan dalam masa pandemik ini sambil menunggu berakhirnya pandemik ini untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga yang berduka.

Sebenarnya masih banyak pengaruh sistem kebudayaan masyarakat Lembah Baliem, Pegunungan Tengah dan Papua secara umum yang dapat menjadi medium yang potensial dalam penularan wabah Covid-19 ini, misalnya duduk bareng di Honai, atau para-para adat, tradisi saling kunjungi keluarga dan bekerja kelompok di kampung-kampung masih nampak dilakukan kendati sudah ada himbauan jaga jarak oleh pemerintah.

Oleh sebab itu, masyarakat Papua khususnya di Lembah untuk saat ini diharapkan dapat secara berkesadaran penuh mematuhi dan mengikuti himbauan-himbauan yang dikeluarkan oleh otoritas yang ada  agar tidak terjadi masalah dengan kesehatan pribadi maupun masyarakat banyak ke depan. Terlebih khususnya jika peredaran covid-19 sudah meningkat dan ada kematian akibat dugaan infeksi covid-19.

Hollandia Binnen, 05  Mei 2020

(Ditulis oleh Lagowan Chegelian)

Baca juga: https://jagapapua.com/article/detail/2836/alat-musik-khas-papua-ternyata-punya-fungsi-sosial

Share This Article

Related Articles

Comments (11535)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery